Esai Ilmiah Tugas Bahasa Indonesia_Ganis Regita Sari_07_XII-11

 Deforestasi dan Kehidupan Satwa Liar

Hilangnya Hutan, Hilangnya Kehidupan: Dampak Deforestasi Terhadap Satwa Liar di Indonesia 

Ganis Regita Sari (07)_XII-11



Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang luas dan menjadi habitat bagi banyak spesies langka seperti harimau Sumatera, orangutan, gajah Sumatera, dan badak Jawa. Selain berperan sebagai penyerap karbon dan pengatur iklim, hutan juga merupakan ekosistem penting bagi kelangsungan hidup satwa liar. Namun, deforestasi yang terjadi secara masif dalam beberapa dekade terakhir telah mengancam keseimbangan ekosistem dan mempercepat kepunahan berbagai spesies.


Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka deforestasi bruto Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2018-2019, deforestasi bruto mencapai 465,5 ribu hektare, sedangkan pada 2019-2020 turun drastis menjadi 119,1 ribu hektare. Reforestasi juga meningkat dari 3 ribu hektare pada 2018-2019 menjadi 3,6 ribu hektare pada 2019-2020. Tren ini menunjukkan bahwa berbagai kebijakan lingkungan telah memberikan hasil positif, meskipun ancaman terhadap hutan dan satwa liar tetap ada.


Pemantauan hutan Indonesia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa luas lahan berhutan di seluruh daratan Indonesia adalah 95,6 juta hektare, atau 50,9% dari total daratan, dengan 88,4 juta hektare di antaranya berada dalam kawasan hutan. Selain itu, deforestasi netto Indonesia terus mengalami penurunan, dari 113,5 ribu hektare pada 2020-2021 menjadi 104 ribu hektare pada 2021-2022, atau turun sebesar 8,4%. Meskipun tren deforestasi menunjukkan penurunan, ancaman terhadap ekosistem hutan dan satwa liar masih terus berlangsung.


Penyebab Deforestasi di Indonesia


Deforestasi di Indonesia terjadi karena berbagai faktor, baik yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun kejadian alam.


Alih fungsi lahan menjadi penyebab utama hilangnya hutan di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan pembukaan lahan untuk pertanian telah menyebabkan jutaan hektare hutan menghilang dalam dua dekade terakhir. Menurut Forest Watch Indonesia (FWI), dari tahun 2000 hingga 2020, lebih dari 23 juta hektare hutan hilang akibat ekspansi perkebunan dan pertambangan.


Penebangan liar juga menjadi faktor signifikan yang mempercepat degradasi hutan. Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan untuk menekan praktik illegal logging, aktivitas ini masih banyak terjadi, terutama di Kalimantan dan Sumatera.


Kebakaran hutan, baik yang disengaja maupun tidak, sering kali digunakan sebagai cara murah untuk membuka lahan. Namun, dampaknya sangat merugikan bagi satwa liar yang kehilangan habitatnya dalam waktu singkat. Data dari 2015 hingga 2023 menunjukkan bahwa kebakaran hutan di Indonesia mengalami fluktuasi yang signifikan, dengan puncaknya pada tahun 2015 mencapai 2,6 juta hektare. Kemudian terjadi penurunan drastis pada tahun 2016 dan 2017, sebelum kembali meningkat pada tahun 2019 hingga 1,6 juta hektare. Tahun 2023 juga menunjukkan peningkatan luas kebakaran, mencapai hampir 1 juta hektare.



Dari data grafik di atas, kebakaran paling sering terjadi di lahan mineral, dengan puncaknya pada tahun 2015 mencapai 1,72 juta hektare. Sementara itu, kebakaran di lahan gambut cenderung lebih rendah tetapi tetap signifikan, dengan puncaknya pada tahun 2015 mencapai 891 ribu hektare. Kebakaran di lahan gambut sangat berbahaya karena sifat gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang tinggi. Kebakaran ini juga berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia akibat polusi asap yang meluas.


Dampak Deforestasi terhadap Kehidupan Satwa Liar


Hilangnya habitat menjadi dampak paling nyata dari deforestasi. Satwa liar bergantung pada hutan untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Ketika hutan ditebang, mereka kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan, yang mengancam kelangsungan hidupnya.


Fragmentasi habitat juga menjadi ancaman serius bagi satwa liar. Ketika hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, pergerakan satwa menjadi terbatas, menyulitkan mereka mencari pasangan, makanan, dan tempat yang aman.


Peningkatan konflik antara manusia dan satwa terjadi ketika hewan kehilangan habitatnya dan terpaksa mencari makan di area pemukiman. Hal ini sering menyebabkan konflik yang berujung pada kematian satwa liar akibat perburuan atau tindakan defensif manusia.


Kepunahan spesies menjadi ancaman terbesar akibat deforestasi. Harimau Sumatera, misalnya, kini hanya tersisa sekitar 400–600 ekor di alam liar. Tanpa perlindungan yang memadai, spesies ini berisiko punah dalam waktu dekat.


Deforestasi di Indonesia telah memberikan dampak serius terhadap kehidupan satwa liar. Jika tidak dikendalikan dengan baik, banyak spesies langka akan menghadapi kepunahan.


Langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain penegakan hukum terhadap perusakan hutan, pengembangan kawasan konservasi untuk melindungi habitat satwa liar, serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem hutan.


Dengan kerja sama dari berbagai pihak, diharapkan kelestarian hutan dan kehidupan satwa liar di Indonesia dapat tetap terjaga untuk generasi mendatang.


Daftar Pustaka

Forest Watch Indonesia. (2021). Laporan Deforestasi Indonesia 2000–2020. Jakarta: FWI.
IUCN Red List. (2023). Panthera tigris sumatrae: The IUCN Red List of Threatened Species. https://www.iucnredlist.org
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Laporan Deforestasi Indonesia Tahun 2018–2023. Jakarta: KLHK.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARYA LITERASI B.INGGRIS XII-11

MENGGAPAI CITA-CITA DI ERA DIGITAL